Senin, 10 Agustus 2015

KIAT MEMULAI USAHA

Memulai usaha, menjadi begitu sulit jika sebelumnya tidak pernah berwirausaha.

Sebut saja Alex, anak seorang pengusaha tekstil, yang hingga usianya menjelang kepala tiga, masih belum menemukan bisnis yang dia sukai, sehingga walaupun ayahnya banyak memberikan modal, akhirnya gagal tak terkira. Kenapa sampai tak terkira? Karena sudah ratusan juta yang tersedot untuk berbagai usaha yang dicobanya.

Sementara Acep, anak seorang tukag soto, di usia yang sama sudah memiliki tiga cabang kedai soto. Padahal ia hanya bermodalkan ratusan ribu hasil meminjam kepada teman-temannya. Beberapa temannya berinisiatif meminjamkan modal karena mereka mengetahui watak Acep yang jujur, ulet dan rajin. Tiga dari sifat orang yang bakal sukses.

Kira- kira apa yang menjadikan keberuntungan mereka begitu berbeda?

Orangtua Acep banyak melibatkan anak sulungnya tersebut dalam menjalankan usaha sotonya sejak Acep kecil, sehingga Acep mendapatkan pelajaran bisnis secara langsung, dan ketika ia berniat terjun ke dunia wirausaha, akhirnya ia berhasil karena ia memiliki passion/minat di bidang tersebut dengan pengetahuan yang mumpuni sekelas spesialis, alhamdulillah, sukses.

Sedangkan Alex, tak pernah diajak untuk mengetahui atau melihat langsung kerja keras ayahnya sejak merintis hingga usahanya membesar. Ia sibuk dengan dirinya sendiri, sebagaimana orangtuanya yang sibuk, merasa cukup membahagiakan anaknya dengan mencukupi segala kebutuhannya, dan lupa bahwa skill adalah bekal menuju sukses.

Tidak sedikit mereka yangsudah mencoba berbagai macam usaha namun gagal. Bukan hanya sekali, tapi juga berkali-kali, sudah menghabiskan banyak waktu, tenaga dan modal, namun hasilnya tak sepadan.

Bagi mereka yang sudah menikmati zona nyaman, hidup dengan menjadi pegawai, hati-hati. Saat dibutuhkan, dalam situasi tertentu, kita harus bisa menjadi pengusaha. Minimal pengusaha barang bekas, menjual perabot bekas do rumah untuk memenuhi kebutuhan, he he...

Namun bagi para gladiator, yang bertekad baja, menyiapkan diri bertempur dengan kerasnya dunia wirausaha, berikut diantara tips yang bisa anda terapkan sebelum memulai sebuah bisnis.

1. Berkepribadian menarik.

Adakah diantara anda yang mau kembali berurusan dengan orang yang kaku, terlalu serius, bahkan egois? Pastilah tidak, kecuali saat harus mengurus SIM. Ups, becanda ya pak polisi..

Jika kita adalah konsumen/pelanggan, maka tentu kita mengharapkan pelayanan yang ramah, sopan, jujur, dan professional tentunya.
Milikilah kepribadian menarik, yang akan menarik (kembali) orang untuk kembali betbisnis dengan kita.

Saat menemui siapapun, bagaimanapun penampilannya, kita berikan senyum yang tulus dari hati. Pepatah _jangan menilai dari bungkusnya_ akan terus berlaku. Lots tak pernah tau siapa yang akan membawakan rizki dari Tuhan pada kita.

2. Jeli melihat peluang.

Meski belum pernah terjun berwirausaha, bila ada kesempatan unjuk karya, sebaiknya diterima, karena itu sebuah bukti bahwa orang lain percaya bahwa kita bisa melakukannya. Optimistic bahwa kita bisa dan singkirkan semua alasan bahwa kita tidak bisa.

Contoh, Adi ditawari untuk menjajakan kue buatan gurunya. Dengan santai ia pun berkeliling sekolah menawarkan dagangan tersebut.
Meski tidak laku semua, sang guru merasa senang melihat semangat Adi meski hanya diberi upah dua potong kue.

APA untungnya buat Adi ? Pertama, ia bisa berkeliling sekolah Dan masuk ke dalam kelas dengan leluasa sehingga jadi lebih dikenal oleh teman-temannya. Kedua, ia akan menjadi orang yang dipercaya oleh gurunya, dan lebih diperhatikan. Yang ketiga, ia mendapat jatah bekal tanpa mengeluarkan uang, hanya bermodal tenaga.

Pelajar kelas satu SMK itu mendapat nilai bagus untuk pelajaran kewirausahaan. Sebuah awal yang bagus, bukan?

3. Memiliki minat dan pengetahuan dibidang usaha yang dijalani.

Banyak usaha yang berhasil gara- gara kebutuhan atau ketidaksengajaan.

Contoh : Nina seorang ibu rumah-tangga yang cukup fashionable,  mempunyai anak berumur lima tahun dan bersekolah di sebuah TK. Pada saat acara yang membutuhkan kostum adat, Nina membeli tiga stel baju kebaya anak dan kemudian disewakan ke orangtua teman  anaknya. Guru TK anaknya menyarankan untuk menambah koleksi kostumnya agar para orangtua bisa menyewa di saat dibutuhkan.
Nina pun bermusyawarah dengan suaminya yang ternyata mendukung niatnya tersebut. Maka ia mulai mempelajari tentang pembuatan, penjualan, hingga penyewaan. Ia juga membuat sebuah website tentang bisnisnya.
Is bisa menghasilkan uang tanpa harus meninggalkan anaknya.

Ada juga yang berbisnis dalam bentuk jasa, seperti perantara( broker) consultan dan pemasaran. Diawali dari kebutuhan, adanya produk maka terjadilah sebuah transaksi bisnis.

Namun, sangat lebih baik jika kita paham seluk beluk usaha yang akan kita geluti. Pengetahuan tersebut seperti sebuah peta saat kita menjadi seorang 'nackpacker', petualang denga tangan kosong, yang mana peta akan sangat membantu saat kita butuhkan, meski kita bisa bertanya pada orang lain.

Teruslah menambah wawasan tentang bisnis yang (ingin) digeluti, agar tak ketinggalan informasi terkini.
Jangan sampai konsumen menanyakan produk terbaru yang kita tidak tahu.

3. Hindari modal dengan berhutang, apalagi hutang beresiko tinggi, riba.

Cobalah meminjam dari orang terdekat/ kerabat, atau pinjaman dari instansi pemerintah lunak. Biasanya secara berkelompok akan lebih mudah dikabulkan oleh lembaga pendanaan pemerintah.

Memang banyak yang berhasil mengembangkan usahanya dengan meminjam ke bank konvensional maupun perseorangan, namun percayalah, itu tidak akan membawa keberkahan dalam kehidupan kita. Seperti Islam, agama lain juga melarang riba. Do Washington, America, sudah ada bank syari'ah untuk melayani mereka yang merasa was-was dengan bank konvensional, meskipun bukan muslim.

Jika kita adalah orang yang bisa dipercaya maka tak mungkin tak ada yang may meminjamkan uangnya.

Bangunlah kepercayaan orang pada kita, meskipun dia musuh kita.

4. Sabar Dan Tawakkal, namun tak pernah lepas meminta pertolongan Tuhan.

Usaha penuh kesungguhan, yang tidak merugikan orang lain, disertai restu orangtua ( dan pasangan bagi yang sudah menikah), tak kan mungkin tidak berbuah. 

Selalu introspeksi diri dari segala kesalahan terhadap makhluk Tuhan yang mungkin akhirnya menutup pintu rizki kita. Lalu serahkan semua pada Allah ta'ala, karena semua adalah ketentuanNya.

Sabar ketika usaha belum membuahkan hasil, karena semua pengusaha sukses, pasti pernah mengalami kegagalan. Perbaiki kinerja, perbaiki metode, perbaiki pelayanan.

Sabar ketika sudah menuai hasil. Banyak contoh jatuhnya sebuah usaha yang dirintis bertahun-tahun, akibat melalaikan atau menyakiti keluarga, baik langsung maupun tak langsung.

Jangan lupa berbagi, untuk 'saham' kita di akhirat. Beramal kepada sesama (terlebih pada anak yatim), akan menciptakan sebuah aura pelindung dari aura negatif. Bersedekah tidak akan mengurangi harta, melainkan memancing rizki dari yang maha kuasa.

Good luck, semoga berhasil. Salam sukses...!!!

Endang Susilowati.

Ilustrasi: Galih, mantan kiper Persons yang kini menjadi pengusaha hiburan anak-anak


Tidak ada komentar:

Posting Komentar