Rabu, 12 Agustus 2015

HOBI MAKAN BANGKAI

MAKAN BANGKAI TIAP HARI TANPA SADAR

Alangkah menjijikkan memakan bangkai saudara seiman. Gossip/ghibah adalah seperti memakan bangkai. Islam melarang keras gossip, ghibah, menggunjing dan mencela.

Rasulullah menjelaskan arti dari ghibah/menggunjing dalam sebuah riwayat :

Artinya: Tahukah kalian apa itu ghibah (menggunjing)?. Para sahabat menjawab : Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Kemudian beliau bersabda : Ghibah adalah engkau membicarakan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci.
Ada yang bertanya. Wahai Rasulullah bagaimana kalau yang kami katakana itu betul-betul ada pada dirinya?
Beliau menjawab : Jika yang kalian katakan itu betul, berarti kalian telah berbuat ghibah. Dan jika apa yang kalian katakan tidak betul, berarti kalian telah memfitnah (mengucapkan suatu kedustaan).

Imam Nawawi mendefinisikan makna ghibah sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fatbul Bari Syarah Bukhari hlm. 10/391 demikian:

                             ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ ﺍﻻﺫﻛﺎﺭ ﺗﺒﻌﺎ ﻟﻠﻐﺰﺍﻟﻲ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﺑﻤﺎ ﻳﻜﺮﻫﻪ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ
                                  ﻓﻲ ﺑﺪﻥ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﺃﻭ ﺩﻳﻨﻪ ﺃﻭ ﺩﻧﻴﺎﻩ ﺃﻭ ﻧﻔﺴﻪ ﺃﻭ ﺧﻠﻘﻪ ﺃﻭ ﺧﻠﻘﻪ ﺃﻭ ﻣﺎﻟﻪ ﺃﻭ
                                          ﻭﺍﻟﺪﻩ ﺃﻭ ﻭﻟﺪﻩ ﺃﻭ ﺯﻭﺟﻪ ﺃﻭ ﺧﺎﺩﻣﻪ ﺃﻭ ﺛﻮﺑﻪ ﺃﻭ ﺣﺮﻛﺘﻪ ﺃﻭ ﻃﻼﻗﺘﻪ ﺃﻭ
                             ﻋﺒﻮﺳﺘﻪ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﻪ ﺳﻮﺍﺀ ﺫﻛﺮﺗﻪ ﺑﺎﻟﻠﻔﻆ ﺃﻭ ﺑﺎﻹﺷﺎﺭﺓ ﻭﺍﻟﺮﻣﺰ

Artinya: Imam Nawawi berkata dalam kitab Al-Adzkar mengikuti pandangan Al Ghazali bahwa ghibah adalah menceritakan tentang seseorang dengan sesuatu yang dibencinya baik badannya, agamanya, dirinya (fisik), perilakunya, hartanya, orang tuanya, anaknya, istrinya, pembantunya, raut mukanya yang berseri atau masam, atau hal lain yang berkaitan dengan penyebutan seseorang baik dengan lafad (verbal), tanda, ataupun isyarat

Dalil-dalil dari Quran dan hadits tentang ghibah adalah sebagai berikut:
- QS Al Hujurat : 12

ﻭَﻻ ﻳَﻐْﺘَﺐْ ﺑَﻌْﻀُﻜُﻢْ ﺑَﻌْﻀًﺎ ﺃَﻳُﺤِﺐُّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﻛُﻞَ ﻟَﺤْﻢَ ﺃَﺧِﻴﻪِ ﻣَﻴْﺘًﺎ ﻓَﻜَﺮِﻫْﺘُﻤُﻮﻩُ
ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻮَّﺍﺏٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ

Artinya: Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi 
Maha Penyayang.

Ibnu Abbas dalam menafsiri ayat di atas menyatakan:

                            ( ﺇﻧﻤﺎ ﺿﺮﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺜﻞ ﻟﻠﻐﻴﺒﻪ ﻷﻥ ﺃﻛﻞ ﻟﺤﻢ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺣﺮﺍﻡ ﻣﺴﺘﻘﺬﺭ ﻭ ﻛﺬﺍ
                                                                           ﺍﻟﻐﻴﺒﻪ ﺣﺮﺍﻡ ﻓﻰ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭ ﻗﺒﻴﺢ ﻓﻰ ﺍﻟﻨﻔﻮﺱ )

Allah membuat perumpamaan ini untuk ghibah karena memakan daging bangkai itu haram dan menjijikkan. Begitu juga ghibah itu haram dalam agama dan buruk dalam jiwa. (Lihat Tafsir Al-qurtubi hlm 16/346).

 Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud

                                      ﻟﻤﺎ ﻋٌﺮﺝ ﺑﻰ ﻣﺮﺭﺕ ﺑﻘﻮﻡ ﻟﻬﻢ ﺍﻇﻔﺎﺭ ﻣﻦ ﻧﺤﺎﺱ ﻳﺨﻤﺸﻮﻥ ﻭﺟﻮﻫﻬﻢ ﻭ
                                ﺻﺪﻭﺭﻫﻢ ﻓﻘﻠﺖ : ﻣﻦ ﻫﺆﻻﺀ ﻳﺎ ﺟﺒﺮﻳﻞ؟ ﻗﺎﻝ : ﻫﺆﻻﺀ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺄﻛﻠﻮﻥ ﻟﺤﻮﻡ
                                                                                                 ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭ ﻳﻘﻌﻮﻥ ﻓﻰ ﺃﻋﺮﺍﺿﻬﻢ.

Artinya: Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka.
Maka aku bertanya :”Siapakah mereka ya Jibril?” Jibril berkata :”Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mereka mencela 
kehormatan-kehormatan manusia”.
-
 Hadits riwayat Ahmad dari Jabir bin Abdullah:

                                   ﻛُﻨَّﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻓَﺎﺭْﺗَﻔَﻌَﺖْ ﺭِﻳﺢُ ﺟِﻴﻔَﺔٍ ﻣُﻨْﺘِﻨَﺔٍ ﻓَﻘَﺎﻝَ
                              ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺃَﺗَﺪْﺭُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺮِّﻳﺢُ ﻫَﺬِﻩِ ﺭِﻳﺢُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ-
                                                                                                                  -ﻳَﻐْﺘَﺎﺑُﻮﻥَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ-

-Artinya: Kami pernah bersama Nabi tiba-tiba tercium bau-
-busuk yang tidak mengenakan. Kemudian Rosulullohbersabda,-
-‘Tahukah kamu, bau apakah ini? Ini adalah bau orang-orang-
-yang mengghibah (menggosip) kaum mu’minin.-
-
DALIL BOLEHNYA GHIBAH-

QS An Nisa 4:148

                                 ﻻ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﺠَﻬْﺮَ ﺑِﺎﻟﺴُّﻮﺀِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﺇِﻻ ﻣَﻦْ ﻇُﻠِﻢَ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳَﻤِﻴﻌًﺎ ﻋَﻠِﻴﻤًﺎ
Artinya: Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus
 terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi 
Maha Mengetahui.

Hadits riwayat Muslim

                                      ﺣَﻖُّ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ ﺳِﺖٌّ ﻗِﻴﻞَ ﻣَﺎ ﻫُﻦَّ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺫَﺍ ﻟَﻘِﻴﺘَﻪُ
                                      ﻓَﺴَﻠِّﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻙَ ﻓَﺄَﺟِﺒْﻪُ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺍﺳْﺘَﻨْﺼَﺤَﻚَ ﻓَﺎﻧْﺼَﺢْ ﻟَﻪُ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻋَﻄَﺲَ
                                                              ﻓَﺤَﻤِﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺴَﻤِّﺘْﻪُ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻣَﺮِﺽَ ﻓَﻌُﺪْﻩُ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌْﻪُ.

- Hadits riwayat Ibnu Hibban dan Baihaqi
                                                                                      ﺍﺫﻛﺮﻭﺍ ﺍﻟﻔﺎﺳﻖ ﺑﻤﺎ ﻓﻴﻪ، ﻳﺤﺬﺭﻩ ﺍﻟﻨﺎﺱ

Artinya: Ceritakan tentang pendosa apa adanya supaya orang lain menjadi 
takut.

Hadits riwayat Muslim

ﻛﻞ ﺃﻣﺘﻲ ﻣﻌﺎﻓﻰ ﺇﻻ ﺍﻟﻤﺠﺎﻫﺮﻭﻥ
Artinya: Setiap umatku akan dimaafkan kecuali para mujahir. Mujahir adalah orang-orang yang menampakkan perilaku dosanya untuk diketahui umum.

Hadits riwayat Baihaqi

ﻣﻦ ﺃﻟﻘﻰ ﺟﻠﺒﺎﺏ ﺍﻟﺤﻴﺎﺀ ﻓﻼ ﻏﻴﺒﺔ ﻟﻪ

Artinya: Barangsiapa yang tidak punya rasa malu (untuk berbuat dosa), maka
 tidak ada ghibah (yang dilarang) baginya.

HUKUM GOSIP (GHIBAH) ADA TIGA: HARAM, WAJIB, BOLEH

Dari sejumlah dalil Quran dan hadits di atas, maka ulama mengambil kesimpulan bahwa hukum ghibah atau gosip itu terbagi tiga yaitu haram, wajib dan halal (boleh).

HARAM
Hukum asal gosip adalah haram. Gosip yang haram adalah ketika anda membicarakan aib sesama muslim yang dirahasiakan. Baik aib itu terkait dengan bentuk fisik atau perilaku; terkait dengan agama atau duniawi.
Hukum haram ini tersurat secara tegas dalam Al-Quran, hadits seperti disebut di atas dan ijma' ulama sebagaimana disebutkan oleh Al-Qurtubi dalam Tafsir Al-Qurtubi 16/436. Yang menjadi perselisihan ulama hanyalah apakah gosip termasuk dosa besar atau kecil. Mayoritas ulama menganggapnya sebagai dosa besar.

Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami ghibah dan namimah (adu domba) termasuk dosa besar.
Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata: Ghibah itu haram tidak hanya bagi pembawa gosip tapi juga bagi pendengar yang mendengar dan mengakui. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar orang memulai berghibah untuk berusaha menghentikannya apabila ia tidak kuatir pada potensi ancaman. Apabila takut maka ia wajib mengingkari dengan hatinya dan keluar dari majelis pertemuan kalau memungkinkan.
Apabila mampu mengingkari dengan lisan atau dengan mengalihkan pembicaraan maka hal itu wajib dilakukan. Apabila tidak dilakukan, maka ia berdosa.

WAJIB
Ghibah atau membicarakan / menyebut aib orang lain adakalanya wajib. Hal itu terjadi dalam situasi di mana ia dapat menyelamatkan seseorang dari bencana atau potensi terjadinya sesuatu yang kurang baik. Misalnya, ada seorang pria atau wanita yang ingin menikah. Dia meminta nasihat tentang calon pasangannya. Maka, si pemberi nasihat wajib memberi tahu keburukan atau aib calon pasangannya sesuai dengan fakta yang diketahui pemberi nasihat. Atau seperti si A memberitahu pada si B bahwa si  berencana untuk mencuri hartanya atau membunuhnya atau mencelakakan istrinya, dlsb. Ini termasuk dalam kategori memberi nasihat.
Dan hukumnya wajib seperti disebut dalam hadits di atas tentang 6 hak muslim atas muslim yang lain.

BOLEH
Imam Nawawi dalam Riyadus Shalihin 2/182 membagi gosip
atau ghibah yang dibolehkan menjadi enam sebagai berikut:
ﺍﻷﻭﻝ : ﺍﻟﺘﻈﻠﻢ، ﻓﻴﺠﻮﺯ ﻟﻠﻤﻈﻠﻮﻡ ﺃﻥ ﻳﺘﻈﻠﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻭﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ
ﻣﻤﺎ ﻟﻪ ﻭﻻﻳﺔ ﺃﻭ ﻗﺪﺭﺓ ﻋﻠﻰ ﺇﻧﺼﺎﻓﻪ ﻣﻦ ﻇﺎﻟﻤﻪ، ﻓﻴﻘﻮﻝ : ﻇﻠﻤﻨﻲ ﻓﻼﻥ ﻛﺬﺍ .
ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺍﻻﺳﺘﻌﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ ﺗﻐﻴﻴﺮ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﻭﺭﺩ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﻮﺍﺏ، ﻓﻴﻘﻮﻝ
ﻟﻤﻦ ﻳﺮﺟﻮ ﻗﺪﺭﺗﻪ ﻋﻠﻰ ﺇﺯﺍﻟﺔ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ : ﻓﻼﻥ ﻳﻌﻤﻞ ﻛﺬﺍ، ﻓﺎﺯﺟﺮﻩ ﻋﻨﻪ.
ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ : ﺍﻻﺳﺘﻔﺘﺎﺀ، ﻓﻴﻘﻮﻝ : ﻟﻠﻤﻔﺘﻲ : ﻇﻠﻤﻨﻲ ﺃﺑﻲ، ﺃﻭ ﺃﺧﻲ، ﺃﻭ ﺯﻭﺟﻲ، ﺃﻭ
ﻓﻼﻥ ﺑﻜﺬﺍ.
ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ : ﺗﺤﺬﻳﺮ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮ ﻭﻧﺼﻴﺤﺘﻬﻢ .
ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ : ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺠﺎﻫﺮًﺍ ﺑﻔﺴﻘﻪ ﺃﻭ ﺑﺪﻋﺘﻪ، ﻛﺎﻟﻤﺠﺎﻫﺮ ﺑﺸﺮﺏ ﺍﻟﺨﻤﺮ
ﻭﻣﺼﺎﺩﺭﺓ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺃﺧﺬ ﺍﻟﻤﻜﺲ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ.
ﻟﺴﺎﺩﺱ : ﺍﻟﺘﻌﺮﻳﻒ، ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﻌﺮﻭﻓًﺎ ﺑﻠﻘﺐ ﺍﻷﻋﻤﺶ، ﻭﺍﻷﻋﺮﺝ
ﻭﺍﻷﺻﻢ، ﻭﺍﻷﻋﻤﻰ ﻭﺍﻷﺣﻮﻝ، ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﺟﺎﺯ ﺗﻌﺮﻳﻔﻬﻢ ﺑﺬﻟﻚ.

Artinya:
Pertama, At-Tazhallum. Orang yang terzalimi boleh menyebutkan kezaliman seseorang terhadap dirinya. Tentunya hanya bersifat pengaduan kepada orang yang memiliki qudrah (kapasitas) untuk melenyapkan kezaliman.
Kedua, isti’ānah (meminta pertolongan) untuk merubah atau menghilangkan kemunkaran. Seperti mengatakan kepada orang yang diharapkan mampu menghilangkan kemungkaran:
"Fulan telah berbuat begini (perbuatan buruk). Cegahlah dia."
Ketiga, Al-Istifta' atau meminta fatwa dan nasihat seperti perkataan peminta nasihat kepada mufti (pemberi fatwa):
"Saya dizalimi oleh ayah atau saudara, atau suami."
Keempat, at-tahdzīr lil muslimīn (memperingatkan orang-orang Islam) dari perbuatan buruk dan memberi nasihat pada mereka.
Kelima, orang yang menampakkan kefasikan dan perilaku maksiatnya. Seperti menampakkan diri saat minum miras (narkoba), berpacaran di depan umum, dll.
Keenam, memberi julukan tertentu pada seseorang.
Kategori dan bolehnya ghibah untuk enam kasus di atas disetujui oleh Imam Qurtubi dan dianggap pendapat yang ijmak'.

Dalam Tafsir Al-Qurtubi 16/339 iya menyatakan
ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻗﻮﻟﻚ ﻟﻠﻘﺎﺿﻲ ﺗﺴﺘﻌﻴﻦ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﺧﺬ ﺣﻘﻚ ﻣﻤﻦ ﻇﻠﻤﻚ ﻓﺘﻘﻮﻝ ﻓﻼﻥ
ﻇﻠﻤﻨﻲ ﺃﻭ ﻏﺼﺒﻨﻲ ﺃﻭ ﺧﺎﻧﻨﻲ ﺃﻭ ﺿﺮﺑﻨﻲ ﺃﻭ ﻗﺬﻓﻨﻲ ﺃﻭ ﺃﺳﺎﺀ ﺇﻟﻲ، ﻟﻴﺲ
ﺑﻐﻴﺒﺔ . ﻭﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻷﻣﺔ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻣﺠﻤﻌﺔ

Artinya: Begitu juga ucapan anda pada hakim meminta tolong untuk mengambil
 hak anda yang diambil orang yang menzalimi lalu anda berkata pada hakim: Saya dizalimi atau dikhianati atau dighasab olehnya maka hal itu bukan ghibah.
Ulama sepakat atas hal ini.

As-Shan'ani dalam Subulus Salam 4/188 menyatakan:
ﻭﺍﻷﻛﺜﺮ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﺑﺄﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻠﻔﺎﺳﻖ : ﻳﺎ ﻓﺎﺳﻖ , ﻭﻳﺎ ﻣﻔﺴﺪ , ﻭﻛﺬﺍ
ﻓﻲ ﻏﻴﺒﺘﻪ ﺑﺸﺮﻁ ﻗﺼﺪ ﺍﻟﻨﺼﻴﺤﺔ ﻟﻪ ﺃﻭ ﻟﻐﻴﺮﻩ ﻟﺒﻴﺎﻥ ﺣﺎﻟﻪ ﺃﻭ ﻟﻠﺰﺟﺮ ﻋﻦ
ﺻﻨﻴﻌﻪ ﻻ ﻟﻘﺼﺪ ﺍﻟﻮﻗﻴﻌﺔ ﻓﻴﻪ ﻓﻼ ﺑﺪ ﻣﻦ ﻗﺼﺪ ﺻﺤﻴﺢ
Artinya: Kebanyakan ulama berpendapat bahwa boleh memanggil orang fasik (pendosa) dengan sebutan Wahai orang Fasiq!, Hai Orang Rusak!
Begitu juga boleh meggosipi mereka dengan syarat untuk bermaksud menasihatinya atau menasihati lainnya untuk menjelaskan perilaku si fasiq atau untuk mencegah agar tidak melakukannya. Bukan dengan tujuan terjatuh ke dalamnya. Maka (semua itu) harus timbul dari maksud yang baik.
Allahu a'lam. 

Disadur dari : Alkhairat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar