Selasa, 20 Oktober 2015

KARMA AKIBAT BERZINA (SEBUAH KISAH NYATA)

BERZINA SEPERTI BERHUTANG, AKAN TIBA WAKTUNYA HARUS DIBAYAR, SUKA ATAU TIDAK, MAU ATAU TIDAK.

Sebuah kisah nyata, atas keinginan si pelaku untuk disebarkan agar menjadi pelajaran bagi yang lain.

Isi penting cerita itu ada satu hal, al-jaza’ min jinsil ‘amal, balasan itu sesuai dengan perbuatan.

Seperti firman Allah subhana wata'ala dalam al qur'an :
"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan sebesar zarrah, niscaya akan melihat (balasan)nya Q.S. Al Zalzalah 7-8.

(Dia meminta agar pihak koran tidak menyebutkan namanya. Dia hanya ingin agar orang-orang mengetahui kisahnya.)

Dia mengisahkan, “Ketika sedang di kampus dengan teman-teman, aku punya banyak hubungan dengan gadis-gadis. Aku berzina dengan seorang gadis hingga gadis itu hamil. Ketika pihak keluarganya mengetahui hal ini, gadis tersebut menceritakan kepada kakaknya, maka diapun menghajarku.

Aku berkata kepadanya, “Aku tidak mengenal adikmu. Carilah orang lain yang menghamilinya!”

Aku kemudian meninggalkannya, dan pergi. Karena memang tidak memiliki bukti untuk membuktikan kesalahanku, mereka meninggalkanku.

Akupun melupakan kejadian ini. Bertahun-tahun berlalu hingga pada suatu hari, aku pulang ke rumah dan menemukan ibuku pingsan di lantai. Aku mencoba untuk menyadarkannya. Setiap kali tersadar, ibu berteriak dan pingsan lagi. Aku menyadarkannya untuk kedua kalinya, tapi lagi-lagi ia berteriak dan pingsan. Aku mencoba untuk menyadarkannya tiga kali sampai aku berkata, “Wahai ibu, apa yang terjadi?”

Ibu berteriak dan berkata, adik (perempuan)mu dihamili tetangga.” Jawab ibu.

Aku pun langsung menemui tetanggaku, dan mulai menyerangnya sampai dia berkata kepadaku dengan kata-kata yang seolah seperti anak panah yang menghunjam hatiku.

Dia mengatakan, “Aku tidak mengenal adikmu. Coba tanyakan padanya siapa orang lain yang menghamilinya!”

Subhanallah! Hal yang sama seperti yang kuucapkan kepada keluarga gadis di kampus bertahun-tahun yang lalu.

Balasan tergantung pada amal perbuatannya. Demikianlah.

Apakah kisah ini selesai? Belum.
Aku mengalami depresi yang berat setelahnya.

Kemudian setelah berlalu beberapa tahun, aku memutuskan untuk menikah. Setelah bertunangan dan akad nikah, kami siap untuk pesta pernikahan.

Pada pesta pernikahan, aku mendapatkan kejutan. Calon istriku mengatakan bahwa ia pernah melakukan perbuatan zina sebelumnya. Dia berkata kepadaku, “Tolong tutupi keburukanku, semoga Allah juga menutupi keburukanmu.”

Lalu aku berkata kepada diriku sendiri, “Sudah cukup ya Allah! Cukup! Cukup! Aku sudah menjalani cukup hukuman!”Aku menghela nafas –mencoba menelan cobaan ini.

Kemudian aku menghabiskan banyak waktu dengan istriku hingga dia melahirkan seorang bayi perempuan yang bagaikan rembulan.

Kemudian ketika dia berusia 6 tahun, anakku datang dari luar dengan menangis. Apa yang telah terjadi?
Ternyata, si penjaga rumah telah memperkosanya.

Tidak ada perubahan, atau kekuatan kecuali atas kehendak Allah, Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa.

Allah berfirman, “Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu, dan Alalh sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Al-Anfal: 30).

Saudara-saudariku tercinta..., jangan katakan bahwa ini sering terjadi pada orang yang tidak taat. Jangan!

Teman gadis di kampus yang berzina dengannya di awal cerita memiliki seorang saudara yang sedih ketika tahu saudarinya dizinai. Lalu Allah memberikannya hukuman kepada saudari si pemuda, ya!

Lalu dia akan mempunyai seorang suami, yang kemudian Allah uji melalui istrinya yang ternyata sudah tidak suci lagi.

Gadis itu juga mempunyai seorang ayah yang hatinya hancur karenanya, sehingga Allah mengujinya melalui putrinya yang dinodai pula.

Balasan tergantung dari amal perbuatannya. Jadi dia harus menanggung beban hukuman atas perbuatannya yang ikut menimpa keluarganya.

Dan untuk orang-orang yang tidak bersalah dalam kisah ini, maka ini menjadi cobaan bagi mereka.
Allah ingin mengangkat derajat mereka, dan menghapus dosa-dosa mereka karenanya.

Saudara-saudariku, Allah cemburu untuk para wanita _yang dinodai kehormatannya_.

Mahasuci Dia! Dan Dia akan membalaskan dendam untuk mereka. Maka, berhati-hatilah!

Kisah ini selesai sampai di sini.

Ya Allah, alangkah beratnya balasan bagi pelaku zina.

Satu saat Asy Syafi’i ditanya mengapa hukum bagi pezina sedemikian beratnya?
Wajah Asy Syafi’i memerah, pipinya rona delima.“Karena,” jawabnya dengan mata menyala, “Zina adalah dosa yang bala’ akibatnya mengenai semesta keluarganya, tetangganya, keturunannya hingga tikus di rumahnya dan semut di liangnya.”

Ia ditanya lagi: "Dan mengapa tentang pelaksanaan hukuman itu?"
(Hukuman bagi pezina dalam islam adalah cambuk bagi yang belum menikah, dan rajam hingga mati bagi yang sudah menikah)

Allah berfirman, “Dan janganlah rasa ibamu pada mereka menghalangimu untuk menegakkan agama!”

Allah berfirman pula, “Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”

(Hukuman dilakukan di tempat terbuka, dan disaksikan oleh orang beriman)

Bukankah untuk pelaksanaan hukuman pada para pembunuh, si murtad, dan pencuri Allah tak pernah mensyaratkan menjadikannya tontonan?

Janggut Asy-Syafi’i telah basah, bahunya terguncang-guncang.“Agar ia menjadi pelajaran…”Ia terisak…“Agar menjadi pelajaran…”Ia tersedu…“Agar menjadi pelajaran…”Ia terisak…Lalu ia bangkit dari duduknya, matanya kembali menyala, “Karena ketahuilah oleh kalian.. sesungguhnya zina adalah hutang. Hutang, sungguh hutang… dan.. salah seorang dalam nasab pelakunya pasti harus membayarnya!”

Ya, hindarilah segala yang tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang muslim. Zina adalah hutang, hutang, hutang.
Jika engkau berhutang, maka ketahuilah bahwa tebusannya adalah anggota keluargamu.

Jika mata sudah memandang, maka hati akan merasa, jiwa akan berhasrat, tubuh akan melakukan. Maka, tundukkan pandangan, maka engkau akan selamat dari hal-hal yang mendekatkan diri pada zina.

Zina mata adalah melihat, zina hati adalah berhasrat dan menginginkan, zina badan adalah melakukan.

Allah azza wa jalla melarang kita mendekati zina, bagaimana halnya kemurkaan-Nya jika kita melakukan ?

Barangsiapa berzina, maka akan ada yang dizinai, meskipun di dalam rumahnya. Camkanlah hal ini jika engkau termasuk orang yang berakal.

Semoga bermanfaat.

La tansana min shalihi dua’ikumakhukum fillah, Ibnu Abdil Bari , copas dari whatsapp

Edit by +Mata hari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar