Sabtu, 16 Januari 2016

INIKAH PENYEBAB #KAMI TIDAK TAKUT ?

Warga Jakarta terlihat aneh karena aksi teror ternyata tidak menggetarkan hati mereka, bahkan tampak terhibur dengan aksi polisi modis dan deretan foto pedagang asongan yang ikut meramaikan netizen.

Mengapa bisa demikian ?

Ternyata, kerasnya kehidupan kota Jakarta selama ini telah membentuk karakter tangguh hingga ledakan bom dianggap sebagai petasan biasa.

Ini contoh 'teror' harian yang cukup membuat jantung warga Jakarta berdebar debar:

➡Dapat telpon dari debt collector yang biasa nekad duduk manis menunggui sampai tagihan dibayar, dengan wajah sangar dan dingin mereka.
➡Kaki pegal nunggu bis, lalu bisnya datang dengan penumpang penuh melebihi penuhnya kaleng sarden, tapi terpaksa juga naik bis kota yang jalannya ngebut kejar setoran, lalu harus turun dengan bis setengah jalan, kaki seolah melayang.
➡Copet, rampok, pengamen yang setengah memaksa atau preman yang minta 'sedikit uang daripada kami menodong' di dalam angkot', dalam keadaan mabuk.
➡Siap-siap kebanjiran saat musim hujan.
➡Para orangtua jantungan karena gaya hidup seks dan pergaulan bebas remaja yang diserang oleh vulgarnya media.
Belum lagi sinetron yang 'diserap' dan dijadikan pegangan hidup anak dan remaja.
➡Gaji bulanan habis karena banyaknya tagihan untuk memenuhi (gaya) hidup orang kota, baju kerja, perawatan tubuh, dan pulsa untuk beli kuota. Padahal kerja lembur sampai pagi buta...😑

Dunia bingung, Jakarta itu di mana, karena banyak yang taunya indonesia itu bali, nusa dua dan pantai kuta. Makanya tidak ada meme 'pray for Jakarta' dari perancis dan negara lainnya. Itu derita lhoh(mu)!

Berikut screen shot yang diambil dari sebuah aplikasi berita.

Kamis, 14 Januari 2016

JANGAN MEREMEHKAN DOSA KECIL

Kapankah dosa kecil menjadi dosa besar?

Dosa kecil menjadi dosa besar pada lima keadaan berikut ini:

1. terus menerus.
melakukan dosa kecil secara terus menerus menjadikannya besar.
Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak terus menerus melakukan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imraan [3]: 135).

2. meremehkan dosa.
Disebutkan hadits dalam Shahih Bukhari,
عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya kalian melakukan suatu amalan dan menyangka bahwa itu lebih tipis dari rambut. Namun kami menganggapnya di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sesuatu yang membinasakan.” (HR. Bukhari no. 6492).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

“Sesungguhnya orang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti ketika duduk di bawah gunung, dia takut kalau gunung tersebut jatuh menimpanya. Adapun orang yang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat (terbang) di depan hidungnya.” (HR. Bukhari no. 6308).

3. Merasa gembira dengan dosa.
Merasa gembira dengan dosa menyebabkan pelakunya tidak bertaubat dan terus menerus melakukannya. bahkan ketika ia terluput dari dosa, ia akan merasa sedih. padahal kata Rasulullah:
Barang siapa yang merasa gembira dengan kebaikannya dan merasa sedih dengan keburukannya maka ia adalah mukmin. HR Ahmad.

4. Terang terangan berbuat dosa.

عن سالم بن عبد اللّه قال: سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه

Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” HR Bukhari dan Muslim.

5. yang melakukannya adalah seorang pemuka yang diikuti.
مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.”
HR Muslim.

Copas dari Channel Telegram Al-Fawa'id

SIAPA WANITA BIDADARI DUNIA AKHIRAT ?

💝 Nasihat Indah Untuk Ukhti Muslimah

Kepada ukhti muslimah JAUHILAH perkara-perkara berikut ini:

1. Tabarruj (berhias seperti wanita-wanita jahiliyah), menampakan kecantikan dihadapan laki-laki yang bukan mahramnya dengan memakai pakaian yang sempit, tipis transparan, pendek, terbelah bagian bawahnya dan seterusnya.

2. Menyerupai wanita-wanita kafir dalam hal pakaian, atau model gaya rambut dengan berbagai jenisnya. Termasuk berkiblat pada mode barat yang sedang trend.

3. Mencabut atau mencukur bulu mata, merenggangkan gigi untuk memperindah, memanjangkan kuku, menggambar tatto dan menyambung rambut.

4. Berlebih-lebihan dan melakukan hal-hal yang mubadzir dalam pesta pernikahan dan membuang makanan yang dicampur kotoran ke tempat-tempat sampah.

5. Menonton film, sinetron, mendengarkan lagu-lagu dan musik.

6. Membaca majalah-majalah dan buku-buku yang merusak seperti mengajak kepada "serba boleh" dan hilangnya akhlak yang mulia

7. Berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya seperti sopir, pelayan, atau lainnya. Juga chatting dengan laki-laki non mahrom tanpa ada keperluan mendesak.

8. Ghibah (menggunjing orang lain), namimah (adu domba), menghina dan melecehkan, berdusta, menyelisihi janji dan menipu.

9. Memakai perhiasan atau pakaian yang bergambar atau menggantungkannya di kamar/rumah.
Malaikat tidak akan datang ke rumah yang ada gambarnya.

10. Begadang malam khususnya dalam perkara-perkara yang diharamkan atau pada hal-hal yang tidak ada faidahnya. Apalagi chatting dan on line sampai tertidur.

11. Keluar rumah sendirian ke pasar-pasar umum atau tempat lainnya karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah.

12. Melakukan safar (bepergian jauh) tanpa disertai mahram baik dengan pesawat terbang atau kendaraan lainnya

13. Memakai parfum atau minyak wangi dihadapan laki-laki yang bukan mahramnya.

14. Melaknat, mencela, menghina atau mengucapkan lafadz-lafadz yang jorok dan kotor, berdoa keburukan bagi orang lain ataupun anak-anaknya, atau untuk dirinya sendiri, serta mencela masa.

15. Memakai burqo' (cadar) yang menampakkan perhiasan kecantikan wajahnya dan menumbuhkan fitnah bagi laki-laki.

16. Menutup wajah dengan alat penutup yang samar dan tipis atau pendek sehingga menerawang dan tidak menutupi wajahnya.

📚 Diterjemahkan dari: "Ahkam al-Ghinaa', wa At-Tashwir, wa Halqil liha, wa Syurbid Dhukhan, wa Al-Isbal" yang disusun oleh: Dar Al-Qaasim

___________
Unaizah, 02 Rabi'ul Akhir 1437 H.
Alih Bahasa: Andri Abdul Halim Al_Khalil, Lc.