Ketika seseorang tertimpa masalah/musibah, berbagai tanya dan sesal memenuhi pikirannya. Tak bisa sabar, apalagi menerima kehendak Tuhan, bahkan menyalahkan sang pemilik takdir, semoga kita bukan termasuk orang yang demikian.
Orang yang tidak dalam posisi diterpa problem, akan menasehati, 'sudahlah, sabar ya, semua ada hikmahnya', atau bahkan menyalahkan, dengan pandangan sinis seraya terucap ' makanya, rasain, atau begitulah.’.dan sebagainya.
Memang menyakitkan, sudah tertimpa masalah, harus pula menanggung rasa bersalah.
Namun begitulah adanya. Ujian datang sebagai cara Tuhan untuk menaikkan kedewasaan, kearifan atau derajat kita.
Sebagai cermin perbuatan masa lalu kita yang harus dikoreksi, dan sebagai baterai baru agar kita jadi lebih kuat dari sebelumnya, insyaa Allah.
Renungkan kata-kata di bawah ini agar masalah tidak lagi kita jadikan akhir sebuah kisah, melainkan awal sebuah cerita indah.
"Tiada seorang mukmin (orang beriman) ditimpa rasa sakit, kelelahan, diserang penyakit atau kesusahan(kesedihan), meski hanya tertusuk duri melainkan dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya" (Hadist riwayat Bukhari)
Masyaa Allah, begitu adil dan pengasihnya Allah subhana wata'ala.
_" Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya, atau pada dirinya, lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak Allah untuk mengampuninya "(Hadist riwayat at Thabrani)_
Maka jangan kau sia-siakan sedih dan airmata akibat kita umbar masalah melalui media sosial. Selain menguapkan pahala, hanya akan mempermalukan diri kita.
" Hai orang-orang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan shalat dan sabar (Q.s Al Baqarah :153)
Sungguh cara yang sederhana untuk keluar dari masalah.
Bersujudlah, menangis saat shalat. Serahkan pada sang maha pencipta, yang akan membuat Allah menjadi ridha pada kita.
" Apabila Allah mencintai (seorang) hamba, maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya, (sebagai tanda kerendahan dirinya pada sang khalik"(Hadist riwayat al Baihaqi)
Adukan semua dengan segenap kerendahan hati, karena kita tercipta dari setetes air (mani) yang hina, sehingga tak layak merasa diri sempurna.
_"Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu mema'afkan, menzalimi lalu istighfar, maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah" (Hadist riwayat al Baihaqi)_
_"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan dirimu sendiri..."(Q.s An nisaa' :79)_
Akuilah, sesungguhnya kita lalai dalam menghisab dosa kita, maka dosa-dosa yang telah lampau, kita terima akibatnya saat ini, sebagai balasan kezaliman yang mungkin kita lupa atau tidak menyadarinya.
_"Seseorang diuji terus menerus sehingga dia berjalan di muka bumi (dengan) bersih dari dosa-dosa"(H.r Bukhari)_
__"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mdngetahui"(Q.s Al Baqarah : 216)_
Manusia terkadang berambisi dalam meraih sesuatu, tanpa berpikir bahwa hal tersebut bisa mengakibatkan keburukan baginya.
Terakhir, terima atau tidak, semua takdir sudah tertulis di kitab lauhul mahfudz.
Ikhlas menerima takdir, lalu tawakkal (berserah diri) pada Allah ta'ala, maka Allah akan berikan jalan keluar yang tak terduga, insyaa Allah.
Allahu a'lam.
Endang Susilowati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar