Jumat, 13 Februari 2015

Sewa kostum, habiskan jutaan rupiah, wafat hanya berbungkus kafan putih.

Indonesia, yang katanya 'gemah ripah loh jinawi', memang negara kaya raya dengan kekayaan alam yang melimpah.
Meski demikian, banyak terlihat fakta ironis dimana yang berpunya sibuk foya-foya sedang yang papa menahan lapar dan menggigil kedinginan di bawah jembatan.

Kehidupan yang memuja duniawi telah menyihir masyarakat, baik awam maupun terpelajar untuk mencari dunia dengan segala cara.

Menjadi artis, seniman musik dll sepertinya halal, padahal ( dalam islam ) itu adalah sarana bermaksiat. Mendendangkan lagu yang mengumbar syahwat, dengan pakaian yang menampakkan aurat.

Make up, sewa kostum, gladi resik maupun properti lainnya, bisa menghabiskan uang jutaan, bahkan ratusan juta, untuk bisa tampil memikat.

Padahal, jika popularitas sudah memudar, siapa yang peduli saat tubuh lemah tergolek akibat pola hidup yang jauh dari tuntunan agama ( itupun kalau dia beragama )

Banyaknya uang yang didapat, akan habis dengan cepat, ke pos-pos yang kurang bermanfaat, serta untuk memfasilitasi gaya hidup.

Sementara banyak stasiun tv  ( atas perintah zionist ) berusaha membuat program 'artis-artisan', idola sesaat yang bisa menghabiskan waktu peserta dan keluarganya, penonton dan pendukung acaranya untuk sebuah pencitraan semu.
Mulai dari anak-anak hingga ibu rumahtangga, semua disibukkan agar fokus pada menjadi 'juara'.

Setelah semua porak poranda, barulah kita menyadari bahwa kesuksesan sebenarnya adalah keutuhan rumah tangga, keutuhan keluarga, bukan harta, popularitas dan tahta.

Namun banyak juga artis yang akhirnya mendapatkan kembali hidayahnya, lalu menjadi religius dan menjadi lebih damai hidupnya.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi, hanya mengingatkan karena rasa kepedulian sesama rakyat Indonesia, agar  Tuhan tidak menimpakan adzab kepada kita karena kita memviarkan kemaksiatan merajalela berdalih hiburan dan seni.

Kamis, 05 Februari 2015

:: PENDIDIKAN ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA ... ? ::

Mendidik anak, seperti mengasah sebuah berlian. Dari tidak berbentuk hingga menjadi sebentuk perhiasan yang indah. Dibutuhkan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tanpa batas.

Namun kenyataannya adalah pendidikan anak dipikul oleh pihak ibu atau bahkan pengasuh. Jika pengasuh adalah pribadi yang baik dan benar menurut norma agama dan masyarakat maka bisa jadi anak yang diasuhnya akan baik-baik saja, dalam arti tak menjadi beban keluarga dan masyarakat. Jika tidak ?

Seharusnya ayah dan ibu bekerjasama dalam masalah pendidikan anak karena itu adalah tanggung jawab mereka. Jangan sampai jika anak 'salah asuh', orangtua hanya sibuk mencari siapa yang salah.

Dengan demikian, orangtua harus berhati-hati dalam bertutur, bersikap dan berperilaku karena anak akan mengaplikasikan apa yang didapatnya dalam kehidupan kesehariannya menjadi karakter/kepribadiannya.

Seorang ibu seharusnya menjaga, mendidik dan mengawasi anaknya, bukannya malah sibuk dengan sosialita dan dunianya sendiri.
Seharusnya mereka juga memohon lindungan dan bantuan dalam mendidik dan menjaga anak pada sang pemilik, Allah ta'ala.

Dalam islam, kelak akan dipertanyakan kepada seorang ayah dan suami, apa yang telah dilakukannya pada keluarganya. Perilaku istri dan anaknya adalah 'berkat' tuntunan sang ayah.

Lalu, bagaimana jika anak sudah terlanjur 'bermasalah' ?

Pada dasarnya, anak bermasalah adalah 'produk' dari perilaku orangtua bermasalah. Orangtua harus mengintrospeksi diri, mengevaluasi 'kurikulum' pendidikan yang telah diterapkan sehari-hari. Jangan melulu menyalahkan, menghukum bahkan melakukan kekerasan pada anak.

Buatlah 'kurikulum' baru yang dilaksanakan oleh seluruh pihak keluarga. Jangan sungkan meminta kerabat, atau tetangga dalam mengawasi perkembangan anak.

Hadapilah dengan bijak permasalahan anak, cari solusi dengan benar sesuai tuntunan agama.


MENCINTAI ITU... ;

• mendengarkan saat ia berbicara
• memandang penuh kasih, di bawah sinar matahari maupun di bawah sinar bulan
• mengerti saat dia melakukan hal yang buat dia menarik
• melindungi harga dirinya, di depan/di belakangnya
• memaafkan bila dia berbuat hal yang kurang wajar
• mau berbagi tanpa harap akan diberi
• melakukan kewajiban sesuai kodrat

Wah, berat juga ya ? .. ( megerutkan kening ) Sepertinya tidak.

Jika tidak bisa sempurna mencintai, jangan berharap mendapatkan cinta yang sempurna...

Minggu, 01 Februari 2015

KETIKA HATI TERPAUT

Sebuah renungan #prewedding untuk seorang ikhwan (lelaki)

Saat hati terpaut pada seseorang, terbetik hasrat untuk memiliki dengan cara halal tentunya.., tapi taukah antum ( anda) ?

Menikah bukanlah mencari kesamaan, namun menyatukan perbedaan, saling melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Keberadaannya disampingmu bukanlah sebagai pelengkap dirimu. Dia adalah dia sendiri, dengan segala keinginan dan harapannya.

Kau akan mendapati teramat sering dia menangis meski kau bingung mengapa kau menangis. Saat ijab qabul, saat kelahiran anak kalian, saat terlalu sedih ketika ada masalah, ketika kau memarahinya, ia akan menangis. Dan mungkin kau akan diam saja, membiarkannya hingga ia berhenti menangis. Namun saat kau bersedih, ia akan segera merengkuhmu dan ikut menangis bersamamu. 

Ia takkan menangis saat kau bilang tak ada uang. Ia akan berpikir keras agar anak kalian tetap makan.Ia takkan menangis saat harus ikut berjuang mencari nafkah.

Bila engkau memberinya rumah, maka ia akan memberikan kehangatan cinta pada rumahmu.

Saat kau memberinya uang, ia akan memberimu kehidupan.

Ketika engkau memberinya beras maka ia akan mengembalikannya sebagai nasi.

Ketika engkau memberinya ketulusan cinta, maka ia akan mengabdikan dirinya untukmu.

Jika engkau menyakitinya maka kau akan dapatkan airmata sekaligus kebencian.

Jika engkau mengkhianatinya maka ia akan memberimu penderitaan.

Dia berasal dari tulang rusuk karena dia ada untuk dilindungi, bukan dari tulang kepala untuk dijadikan pemimpin,bukan juga dari tulang kaki agar berada di bawah (penindasan) atau dari tulang ekor untuk dijadikan pengikut.

Ketika engkau tergoda, ingatlah bahwa ibumu seorang wanita. Relakah engkau jika ia tersakiti ?

Baik-buruknya perilaku istrimu adalah tergantung darimu. Jika engkau bisa menjadi pemimpin yang baik, maka ia akan baik pula.

Ia sudah 'meninggalkan' rumah orangtuanya untuk hidup bersama orang yang baru dikenalnya. Akankah kau buat ia menangis dan membuatnya bingung harus ke mana saat kau menghardiknya ?

Jika kelak kau dapatkan anak darinya, bersyukurlah.Bersabarlah, maka jangan kau marah saat ia akan menghabiskan seluruh waktu dan pikirannya untuk anakmu, sehingga ia sedikit melupakanmu, tak sempat berhias untukmu, atau berbuat sesuatu yang mengecewakanmu karena ia sedang menjalankan sebuah amanat yang amat berat.

Apa yang kau inginkan terjadi pada anakmu ? Jaga perilaku, maka anakmu akan tumbuh dengan baik. Berikan nafkah halal maka anakmu akan menyelamatkanmu di akhirat kelak.

Pantaskan dirimu agar keluargamu tidak akan menyeretmu kelak ke neraka.

Allahu a'lam.