Jumat, 14 Agustus 2015

SEBELUM TUHAN MEMANGGILMU, IJINKAN AKU MENCIUM TANGANMU

Sebuah perusahaan besar sedang mengadakan perekrutan untuk lowongan cleaning service. Sang HRD, melaporkan keganjilan surat lamaran seorang pemuda sarjana, pada atasannya, sang CEO.

CEO perusahaan besar tersebut mengerutkan kening saat membaca jawaban hasil interview seorang pemuda lulusan  universitas negri jiran tersebut, di mana pada kolom yang diinginkan saat bekerja di perusahaan ini, George, menjawab diizinkan shalat dhuha, shalat lima waktu dan menjawab telepon dari ibunya saat jam kerja, lalu ditanyakan kepadanya apa alasannya menjawab demikian. Ia menjawab "shalat adalah panggilan dari Allah, dan itulah tugas utama manusia di bumi, dan saya tidak ingin saat ibu saya ingin bicara dengan saya, saya tidak bisa menjawab atau mendengarkannya, sedangkan sejak bayi beliau selalu siap saat saya menangis, memanggil atau saat membutuhkannya. Sedangkan shalat dhuha saya kerjakan karena itu adalah sunnah (yang biasa dilakukan oleh rasulullah), dan saya ingin bersyukur atas segala nikmatNya."

"Bukankah  tidak ada yang mengawasi apa apa yang kamu kerjakan?"

"Allah maha melihat, dan saya tidak ingin nanti di buku catatan amal saya penuh dengan catatan 'korupsi waktu', karena melakukan hal- hal ' pribadi' saat jam kerja"

"Lalu kenapa kamu melamar posisi ini?"

"Ibu saya sering berkata bahwa beliau berharap saya bekerja di gedung pencakar langit. Saat ini beliau tengah sakit maka saya tinggalkan pekerjaan saya merintis sebuah penerbitan agar ibu saya senang."

Sang CEO menitikkan airmata, menyadari diusianya yang hampir setengah abad, shalatnya hanya dilakukan sekedarnya dengan alasan sibuk, dan betapa sering ia mewakilkan ' voicemail' saat ibundanya menelpon. Ia pun merasakan bahwa tujuan hidupnya tidak terarah dan sering mengeluhkan kesehatan tubunnya, mungkin akibat kurang bersyukur dan berbakti pada orangtuanya. Kini Allah menegurnya dengan mengirimkan seorang pemuda yang lebih pandai, gagah yang saleh.

"Kutitipkan perusahaan ini padamu, terserah apa yang akan kau benahi, pimpinlah ribuan karyawanku, aku ingin menemani ayahku yang sedang sakit saat ini. Tubuhnya yang renta telah ia korbankan untuk menghidupiku hingga aku bisa seperti ini, aku ingin mencium tangan mereka, merawat mereka selagi aku masih bisa melihat mereka di dunia ini." kata pemilik perusahaan itu sambil mengusap airmata harunya, yang selama ini belum pernah dilakukannya.

Anehnya lagi, si pemuda tampak ragu, lalu setelah menunduk beberapa saat, ia berkata, "Saya terima dengan berat hati amanah ini, semoga saya bisa mengembannya dengan sebaik-baiknya.., saya mau menerima tanggung jawab ini karena saya ingin bapak merawat orangtua bapak"

Sang CEO lah yang mengucapkan terimakasih sambil menyalami pemuda yang tampak bingung di hadapannya.

......

Hikmah dari kisah di atas adalah kejujuran dan ketetapan hati si pemuda tidak akan menyusahkannya, dan ridho kedua orang tua amatlah ia harapkan karena itu dia tidak ingin menyakiti orangtuanya.

Nasib baik selalu menyertai orang yang santun dan berbakti pada kedua orangtuanya. Insyaa Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar