Minggu, 13 Desember 2015

MEMAKAN BANGKAI MANUSIA

SEKILAS TENTANG GHIBAH -

👉🏻Ghibah (menggunjing, bergosip) adalah perkara yang dilarang di dalam agama kita yang mulia.

👉🏻Di dalam Al Quran, Allah berfirman...

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah jadi BANGKAI? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (Al Hujarat: 49)

👉🏻Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan definisi ghibah dengan sabdanya dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim rahimahullah,

أَتَدْرُونَ مَا الغِيبَةُ؟ قَالُوا اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ: قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ.

"Apakah kalian mengetahui ghibah? Mereka mengatakan: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.
Beliau bersabda,

👉🏻"Engkau menyebutkan tentang saudaramu hal yang dia tidak suka."

Dikatakan kepada beliau: 'Apa pendapat Engkau apabila ada pada saudaraku apa yang aku katakan'

Beliau bersabda,

"Apabila ada pada saudaramu apa yang kamu katakan maka kamu telah mengghibahinya. Namun apabila hal tersebut tidak ada pada saudaramu maka engkau telah berdusta atasnya."

👊🏻Ghibah adalah perkara yang haram. Bahkan sebaliknya, yang wajib bagi seorang muslim adalah menyembunyikan aib saudaranya. Bukan malah mengumbarnya dan menjadikannya sebagai bahan pembicaraan.

👉🏻Rasulullah bersabda,

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ كَشَفَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ

“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya walau ia di dalam rumahnya.” (H.R. Ibnu Majah).

Akan tetapi, di sana ada ghibah yang diperbolehkan karena adanya hajat yang mendesak. Hal ini dijelaskan oleh Al Imam An Nawawi.

Beliau mengatakan ada enam perkara yang dikecualikan dari ghibah:

1⃣ Mengadukan kezhaliman kepada pihak yang berwajib.

2⃣ Meminta bantuan untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan orang yang berbuat maksiat kepada yang benar.

3⃣ Meminta fatwa.

4⃣ Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekannya. Seperti seorang yang biasa menipu, menjual dengan tidak jujur, maka tidak mengapa diungkap kejelekannya agar orang tidak tertipu.

5⃣ Seorang yang menampakkan kefasiqannya atau bid'ahnya.

6⃣ Pengenalan. Misalnya seorang sudah terkenal dengan julukan seperti al a'masy (yang kabur penglihatannya), al a'raj (yang pincang), al qashir (yang pendek) dan yang semisalnya. Maka boleh baginya untuk mengenalkan dengan julukan tersebut dan haram menyebutkan dengannya dalam rangka mengurangi kehormatannya.

Namun apabila bisa memberitahukan dengan selainnya maka itu yang lebih utama wallallahu a'lam.

#wiramandiribachrun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar