Indonesia, yang katanya 'gemah ripah loh jinawi', memang negara kaya raya dengan kekayaan alam yang melimpah.
Meski demikian, banyak terlihat fakta ironis dimana yang berpunya sibuk foya-foya sedang yang papa menahan lapar dan menggigil kedinginan di bawah jembatan.
Kehidupan yang memuja duniawi telah menyihir masyarakat, baik awam maupun terpelajar untuk mencari dunia dengan segala cara.
Menjadi artis, seniman musik dll sepertinya halal, padahal ( dalam islam ) itu adalah sarana bermaksiat. Mendendangkan lagu yang mengumbar syahwat, dengan pakaian yang menampakkan aurat.
Make up, sewa kostum, gladi resik maupun properti lainnya, bisa menghabiskan uang jutaan, bahkan ratusan juta, untuk bisa tampil memikat.
Padahal, jika popularitas sudah memudar, siapa yang peduli saat tubuh lemah tergolek akibat pola hidup yang jauh dari tuntunan agama ( itupun kalau dia beragama )
Banyaknya uang yang didapat, akan habis dengan cepat, ke pos-pos yang kurang bermanfaat, serta untuk memfasilitasi gaya hidup.
Sementara banyak stasiun tv ( atas perintah zionist ) berusaha membuat program 'artis-artisan', idola sesaat yang bisa menghabiskan waktu peserta dan keluarganya, penonton dan pendukung acaranya untuk sebuah pencitraan semu.
Mulai dari anak-anak hingga ibu rumahtangga, semua disibukkan agar fokus pada menjadi 'juara'.
Setelah semua porak poranda, barulah kita menyadari bahwa kesuksesan sebenarnya adalah keutuhan rumah tangga, keutuhan keluarga, bukan harta, popularitas dan tahta.
Namun banyak juga artis yang akhirnya mendapatkan kembali hidayahnya, lalu menjadi religius dan menjadi lebih damai hidupnya.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi, hanya mengingatkan karena rasa kepedulian sesama rakyat Indonesia, agar Tuhan tidak menimpakan adzab kepada kita karena kita memviarkan kemaksiatan merajalela berdalih hiburan dan seni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar